Senin, 22 Juni 2015

Menikmati Kopi di Aik Nyet, Pulau Lombok

Suara deburan dari air terjun jelas terdengar. Burung-burung berkicau seakan ingin kembali ke sarang. Angin sepoi memberi rasa dingin di tangan. Daun yang kadang terlihat berguguran. "Rupanya hari sudah mulai sore, jam menjunjuk angka empat" kata salah seorang yang ikut ke Kawasan Wisata Aik Nyet di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Waktu itu Kami bertiga jalan-jalan mencari suasana baru, kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh dari kantor.

"Penake ki ngopi ndisik apa piye" kata Yumantoko. "Yo terserah" Kata Kresno Agus Hendarto (sambil menyahut) dan kemudian diamini oleh Rubangi Al Hasan agar rombongan untuk segera mencari warung di sekitar lokasi mencari kopi. Kami memilih tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat parkir, dan begitu kami masuk ke dalam kawasan tiba-tiba ada perempuan yang berusia sekitar 25 Tahun menawarkan minuman kopi. Tanpa pertimbangan yang matang, kami menerima tawaran perempuan itu untuk menunggunya selesai membuat kopi. "Kopi dua ya mba" sahut Yumantoko, "lah koe ora ngopi po" sahut Kresno Agus Hendarto "  aku ora ngumbe kopi, aku njumut Pocari Sweat bae" jawab Yumantoko. Kemudian sambil menunggu kopi jadi, kami ngobrol ngalor-ngidul kami kurang lebih menghabiskan waktu sekitar satu jam sambil minum menikmati suasana sore hari.

"Kalau orang kesini ramainya hari minggu mas" jawab perempuan yang menjadi penjual minuman. "Disini kalau minggu, pedagang juga lebih banyak ketimbang hari bias" ucap lagi lagi perempuan itu. 

Tempat yang Kami singgahi ini menawarkan obyek wisata berupa mata air, sungai, serta suasana hutan. Mata air mengalir deras hingga menjadi aliran sungai dengan arus yang sedang. Pepohonan yang mendominasi di tempat ini adalah dari jenis mahoni, dengan tinggi rata-rata sekitar 30 meter, sehingga daun nya menghalangi cahaya matahari sampai ke tanah.

Kemudian Kami di tawari sate "bulayak" yaitu sate ayam atau sapi dimana lontong yang menemani makan dibuat dari daun aren. Biasanya di beri sambal yang terbuat dari kacang dan rasanya pedas. Akan tetapi tawaran itu kami tolak karena hari sudah mulai sore, dan kami pun bergegas menuju tempat parkir, untuk pulang.

Pohon mahoni mendominasi tutupan dikawasan hutan Aiknyet, Lombok

Pada hari minggu tempat ini menjadi favorit bagi masyarakat sekitar untuk piknik

Rabu, 17 Juni 2015

Air Terjun Timponan, Sutera Alam dari Tebing Hutan Narmada

"Wah ngerti kaya ngene nganggo motor sing ngango rantai bae" atau jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia  berarti "kalau tahu seperti ini pakainya motor yang pakai rantai" ucap Rubangi Al Hasan salah seorang yang berasal dari daerah "ngapak" di Jawa Tengah sampai di tengah kebun coklat di daerah Narmada, Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Itulah yang diucapkannya ketika motor matic yang dinaiki knalpot nya terlalu banyak mengeluarkan asap. Apabila diteruskan dikhawatirkan menyebabkan karet penarik roda meleleh. Pada waktu itu,  lebar jalur yang dilalui hanya satu badan atau tidak sampai satu meter, sehingga jika akan berpapasan dengan pengendara dari jalur berlawanan, salah satu motor harus berhenti terlebih dahulu. Kami ber-empat akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak di tengah kebun coklat untuk mendinginkan suhu motor, ketika Kami beristirahat tidak menyangka kalau Kota Mataram dapat terlihat jelas. Kami tidak sadar ternyata motor yang kami naiki sudah jauh masuk kedalam kawasan hutan.

 Jalan yang dilalui berupa tanah yang masih sedikit lembab, dan jika itu disentuh masih ada rasa lengket di tangan. Guratan bekas ban motor terlihat jelas seperti ular panjang. Di beberapa sisi bekas roda motor menjadi lubang besar dan digenangi oleh air hujan.

"Kita masih beruntung, coba kalau Kita datang saat musim hujan, pasti tidak bisa lewat", ucap Ahmad Nur seorang Betawi asli yang rela bekerja ke daerah untuk menjadi seorang PNS di Balai Penelitian Kehutanan Mataram. Kanan kiri berupa tanaman kopi, coklat, durian, dan pisang. Kadang akar besar menjalar di tengah jalan, jika tidak hati, pengendara bisa terjatuh.

Yang tidak kami antisipasi sebelumnya adalah tanjakan di tengah hutan yang tiba-tiba saja muncul ketika berada di tikungan. Saya selalu memasukan gigi motor satu agar kuat ketika menanjak dan tidak mati mesin. Tanjakan yang curam tadi menjadi penyebab utama mesin motor menjadi sangat panas. Pantas saja motor matic yang dipakai Rubangi Al Hasan menjadi panas.

Itulah sedikit gambaran menuju air terjun Timponan. Letaknya berada di Desa Batu Mekar, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Air terjun ini masuk wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rinjani Barat.



Jarak dari Kota Mataram hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan. Waktu perjalanan banyak terbuang ketika kita sudah mulai masuk kebun coklat. Agar lebih cepat sampai ke air terjun dianjurkan jangan menggunakan kendaraan roda empat dikarenakan jalan yang sempit. Boleh saja menggunakan kendaraan roda empat, tetapi hanya sampai desa saja, selanjutnya berjalan kaki dengan jalur menanjak yang panjang.

Jalan yang dilewati untuk menuju ke air terjun bagus hanya sampai perbatasan desa dengan kawasan hutan. Setelah masuk kedalam kawasan hutan, jalur menuju ke air terjun sulit dilewati walaupun menggunakan sepeda motor. Ketika itu, Kami menyalip rombongan yang berjalan kaki, namun Kami sama-sama sampai di lokasi secara bersamaan yaitu waktu yang sama.

Setelah sampai di lokasi, air terjun terlihat seperti sutera yang menggantung diatas tebing. Tidak lupa waktu itu Saya langsung menuju bawah sungai untuk mempersiapkan pemotretan. Pertama-tama, saya menyiapkan tripod yang akan saya gunakan untuk menopang kamera. Saya kesulitan mencari waktu yang tepat untuk menjepret tombol shutter. Hal ini dikarenakan waktu itu banyak pengunjung yang seolah ingin minta difoto. Ada salah seorang yang berasal dari Kota Mataram yang memberanikan diri untuk meminta foto dengan latar belakang air terjun. Lantas permintaan itu Saya iyakan saja, Saya kemudian menekan tombol shutter mengarahkan kamera Saya kepada orang tersebut. Setelah itu orang tersebut meminta Saya upload fotonya lewat Facebook. Tetapi permintaan terakhir tersebut tidak saya penuhi, karena saya lupa nama akun Facebook nya.




Sebenarnya Air Terjun Timponan tidak terlalu tinggi, yakni hanya sekitar 30 meter saja, akan tetapi karena letaknya yang sangat menantang untuk dikunjungi, air terjun menjadi obat perjuangan rasa lelah karena perjalanan yang ekstrim. Ketika berada di sini kita dapat beristirahat duduk-duduk di bebatuan sungai sembari melihat keindahan ciptaan Allah SWT yang tiada tara. Untuk pengembangan kedepan menurut Saya sangat potensial, terutama untuk ekowisata, akan tetapi penataannya harus lebih bagus lagi.






Minggu, 10 Mei 2015

Tujuh Tempat yang Wajib Dikunjungi Ketika Berada di Kabupaten Kebumen

Kabupaten Kebumen berada di Provinsi Jawa Tengah bagian selatan. Letaknya sangat strategis karena berada pada jalur  lalulintas Pantai Selatan Jawa. Selain itu wilayahnya berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di selatan, sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo, di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan Cilacap, dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Purworejo.

Kabupaten ini memiliki potensi tempat wisata yang beragam mulai dari wisata pantai, gua, taman, kuliner, dan waduk. Berikut tujuh tempat di Kabupaten Kebumen yang sayang untuk dilewatkan jika berada di sini,

1. Alun-alun Kota Kebumen

Letaknya sangat strategis, karena berada di tengah-tengah kota. Di sebelah barat alun-alun terdapat Masjid Agung Kebumen, di sebelah utara terdapat kantor bupati, disebelah timur terdapat kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Setiap hari, warga Kebumen dan sekitar berkumpul di sini. Pengunjung dan  keluarga dapat makan dari pedagang yang menjual aneka makanan seperti bakso, sate, batagor, aneka minuman dan lain sebagainya. Tempat ini juga sering digunakan orang tua untuk mengasuh putra-putrinya dengan memanfaatkan sarana permainan seperti odong-odong, sepeda hias, kuda, mobil-mobilan dan lain sebagainya. Ketika ada event tertentu, tempat ini digunakan untuk pertunjukan seni seperti konser, upacara, dan kegiatan kesenian lainnya.

Di setiap sudut terdapat taman yang ditata rapi, Lampu taman menyala setiap malam menerangi setiap pengunjung yang datang menikmati malam. Alun-alun dibatasi oleh pot-pot besar yang sengaja dibangun agar memudahkan pedagang dan pembeli melakukan transaksi, namun tidak mengurangi keindahan seni arsitektur bangunan taman.

Suasana alun-alun pada malam hari



2. Bendungan Wadaslintang

Bendungan Wadaslintang letaknya sekitar 30  km dari Kota Kebumen. Letaknya berada di timur laut kabupaten. Nama Wadaslintang merupakan nama kecamatan di Kabupaten Wonosobo, dan sebagian besar wilayah waduk masuk Kabupaten Wonosobo, hal ini lah yang menjadikan bendungan besar yang berada di perbatasan Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Wonosobo diberi nama "Bendungan Wadaslintang". Sebagian kecil dari waduk masuk wilayah Kabupaten Kebumen, yaitu daerah yang menjadi pintu keluar air di wilayah selatan waduk yang berada di dekat dengan Kantor  Kecamatan Padureso.

Pengunjung dapat melihat pemandangan pegunungan terutama di sebelah sisi bendungan dari segala mata angin. Jika kita menengok ke arah waduk, air  yang berwarna biru berpadu dengan hijau nya pepohonan di sekitar waduk nampak bersama-sama saling melengkapi seolah pasangan atasan dan bawahan gaun pesta. Lebih-lebih jika cuaca bagus, air danau seolah menjadi cermin yang memantulkan keindahan pegunungan dan  perbukitan yang nampak hijau dan nampak mengitari danau. Udara pegunungan yang menyejukkan pengunjung ketika menarik nafas dalam-dalam dan akan melupakan perjalanan panjang untuk ke sini.




Bendungan Wadaslintang



3. Benteng Van Der Wijck, Gombong, Kebumen


Benteng Van Der Wijck merupakan bangunan bersejarah peninggalan Pemerintah Hindia Belanda. Bangunan ini dibangun pada abad 19. Yang menjadi latar belakang pembangunan bangunan ini adalah untuk menjaga kepentingan Pemerintahan Hindia Belanda di wilayah Jawa bagian selatan seperti jalur perdagangan dan distribusi barang penting lainnya. Letaknya di Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen,  berada di dekat jalur selatan Jawa. Dari Kota Kebumen sekitar 10 km kearah barat.

Bentuknya jika dilihat dari atas berbentuk huruf O, bentuk yang sudah umum pada bangunan-bangunan pertahanan peninggalan Bangsa Eropa. Benteng ini juga memiliki banyak ruangan yang digunakan antara lain sebagai kantor, barak serdadu Hindia Belanda, dan sebagai tahanan bagi orang yang tidak mematuhi aturan pemerintah kolonial pada waktu itu. Benteng ini memiliki tiga lantai yaitu lantai dasar atau lantai satu, lantai 2 dan lantai 3 atau disebut juga dengan atap benteng.

Bila kita berada di sini, seolah kita berada dalam masa lalu. Tembok besar yang kokoh menjadikan bangunan ini mampu bertahan hingga saat ini, walaupun susunannya terdiri dari batu bata merah. Terdapat pintu utama di depan yang dapat membuat kendaraan seperti mobil dapat masuk kedalam. Karena eksotik dan tidak terdapat di tempat lain, benteng ini sering digunakan untuk keperluan suting film maupun serial film. The Raid salah satu film yang memanfaatkan benteng ini untuk mengambil gambar. Untuk mendukung wisata, tempat ini sekarang sudah dilengkapi dengan kolam renang, tempat permainan anak, hotel, dan warung-warung makan.




Benteng Van Der Wijck, Kebumen



4. Gua Petruk


Gua ini terletak di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia. Perjalanan dari Kota Kebumen memakan waktu sekitar satu jam menggunakan kendaraan bermotor kearah barat daya.

Gua Petruk sangat cocok bagi pengunjung yang menyukai wisata petualangan. Jarak mulut gua dengan ekor gua sekitar 350 meter, pengunjung akan membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua jam untuk mencapai ekor gua.  Pengunjung dapat menikmati pemandangan yang tidak biasa di lihat di luar karena terdapat ornamen stalaktit dan stalagnit. Didalam gua terdapat lokasi-lokasi yang memiliki ciri khusus yang bisa dikenali dari bentuk-bentuk batuan yang ber macam-macam. Misalnya ada batuan yang berbentuk orang tua, payudara wanita, otak, usus dan lain sebagainya. Batuan tersebut terbentuk secara alami yang diakibatkan dari aliran sumber-sumber air didalam gua.

Gua Petruk



5. Pantai Suwuk


Kebumen memiliki batas dengan laut di sebelah selatan. Ciri pantai di sebagian besar wilayah Kebumen yaitu pasir berwarna hitam, dan ombak yang kencang. Dari ujung timur sampai dengan ujung barat di Kebumen memiliki berbagai pantai yang cantik untuk dikunjungi, Pantai Suwuk salah satunya.

Pasir hitam berkilau ketika cahaya matahari mengenainya pada siang hari. Sementara itu, angin kencang dan sepoi melambaikan daun daun nyiur disebelah utara. Karang Bolong terlihat ketika kita berdiri diatas tumpukan batu dekat dengan hilir sungai. Ketika sunset tiba, burung-burung terbang menuju sarang yang berada di perbukitan dekat dengan pantai. Pemancing yang berada di tumpukan batu berjudi dengan nasib dalam menangkap ikan.

Sekarang, Pantai yang berada di Kecamatan Puring ini dipoles dari segala sisi. Di bagian pintu masuk, tulisan selamat datang dengan ukuran besar dapat dengan jelas dibaca oleh pengunjung yang seolah Pantai Suwuk dengan ramah mengijinkan pengunjung masuk untuk menikmati pariwisata di sini. Kebun binatang ditata dan siap ditempati penghuninya untuk ditonton pengunjung. Deretan penjual makanan ditata membentuk baris yang siap menyambut pengunjung yang merasa kelelahan. Yutuk makanan khas pesisir Kebumen yang terbuat dari undur-undur siap menggoyang lidah, apalagi jika dijadikan lauk pecel yang ekstra pedas, akan semakin menambah sempurna liburan disini. Jika kita kehausan, kelapa muda hijau bisa dicoba untuk menghilangkan rasa haus ketika selesai bermain air di pantai

Pantai Suwuk, Kebumen, Jawa Tengah



6. Gua Jatijajar


Gua Jatijajar terletak di Kecamatan Ayah. Dari Kota Kebumen memerlukan waktu sekitar satu jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor kearah barat daya. Gua ini banyak dikunjungi wisatawan ketika liburan Idul Fitri, pengunjung dapat mencapai ribuan orang dalam satu hari. Pengunjung berasal dari berbagai tempat dari seluruh Indonesia, bahkan pengunjung mancanegara sering mengunjungi gua ini.

Seperti kebanyakan wisata gua lainnya yaitu menawarkan wisata telusur masuk kedalam gua. Tapi berbeda dengan Gua Jatijajar, disini wisatawan dapat menikmati taman sebelum pintu masuk, dan pengunjung dapat menikmati belanja aneka cidera mata. Belum lagi ketika pengunjung keluar dari gua, penjual makanan khas Kebumen siap dinikmati oleh wisatawan. Objek utama dari gua ini adalah ornamen yang ada didalam gua yang membentuk staglatit dan staglamit


Pintu masuk Gua Jatijajar

7. Taman Kota Kebumen "HM Sarbini"


Taman ini dibangun sekitar tahun 2012, yang menempati bekas terminal lama. HM Sarbini diambil dari salah satu tokoh nasional dari Kabupaten Kebumen yaitu HM Sarbini. Jarak dari Kantor Bupati sekitar 4 km. 
Taman kota memiliki manfaat  ekologis, sosial, budaya, dan estetika. 

Taman HM Sarbini di Kebumen

Rabu, 22 April 2015

Pantai Pink Lombok, Surga di Balik Hutan Jerowaru

Liburan tidak lengkap jika tidak datang ke tempat-tempat menarik disekitar kita. Beberapa waktu yang lalu Saya menghabiskan waktu dengan mengunjungi tempat wisata di Pantai Pink, Jerowaru, Lombok Timur. Jaraknya dengan Mataram ibukota Provinsi sekitar dua jam perjalanan naik motor.

Ketika naik keatas bukit, kita dapat melihat turis yang asik bermain pasir, mandi di sekitar pantai atau warga lokal yang sedang memancing ikan. Pepohonan hijau juga terlihat jelas bagai membentuk garis diagonal dari kiri bawah ke kanan atas. Sementara itu tidak ketinggalan nelayan siap menyewakan perahu ke pengunjung. Rangkaian degradasi warna langit, pantai, bukit, pasir, dan pohon membentuk perpaduan yang sangat sayang untuk tidak diambil gambarnya. Tampaknya liburan kami dibantu alam,  langit cerah memudahkan kami melihat setiap sisi pantai.

Ketika perut sudah tidak bisa diajak kompromi, kami tinggal menuju penjual mie yang berjejer di belakang pepohonan. Pohon yang rindang menjadi tempat yang sejuk untuk menikmati satu gelas mie dan satu cangkir kopi panas. Karena saking capeknya jalan-jalan berkeliling pantai, satu gelas pop mie tidak cukup menutupi perut yang sedang keroncongan. Sembari istirahat, kami menghabiskan waktu yang agak lama di warung. Apalagi, kursi dimana kami duduk, membuat waktu berjalan terasa lambat, kami berada di warung itu sekitar satu jam. Saya kira itu hanya buang waktu jika hanya menikmati pantai di dalam warung

 Konon di Indonesia hanya terdapat dua tempat yaitu di Labuan Bajo, Flores, dan di Lombok. Merupakan suatu kehormatan dapat berkunjung ke tempat yang esklusif yang di Indonesia hanya ada dua. Orang lain belum tentu dapat berkunjung ke tempat ini. Saya tidak henti-henti mengucap syukur Allah SWT telah dipertemukan dengan tempat-tempat indah di negeri ini.



Pantai Pink, Jerowaru, Lombok Timur


Sabtu, 18 April 2015

Pagi di Dermaga

Ketika subuh menjelang diatas dermaga di pelabuhan di Gili Trawangan, Udara begitu dingin menusuk hingga tulang. Jaket tebal yang saya pakai tidak mampu untuk melindungi tubuh  dari serangan dingin nya udara pantai di pagi hari. Akan tetapi di ufuk sebelah timur  terlihat bintang kejora yang masih  terang menampakkan cahaya belum lagi mega-mega yang dipantulkan awan berwarna keemasan seolah Tuhan sedang melukis untuk menghibur para pengunjung pantai agar tidak merasakan dingin nya di tepi pantai. Hanya dengan memandang munculnya  sang surya di pagi detik berganti menit, menit berganti jam sungguh  tidak terasa menunggu pagi hari di atas dermaga. Setelah tidak lama berselang ,  terdengar suara burung-burung yang sedang bernyanyi indah dibalik semak atau pohon-pohon hijau lebat yang masih terjaga dengan baik. Dari sana juga terlihat bunga-bunga dari taman-taman hotel di sekitar yang masih di tempel embun maupun daun hijau dari pohon yang masih terlihat jelas dari sekitar pantai.


Pemandangan pagi hari di tepi dermaga di Gili Trawangan


Kemudian saya menyusuri pantai yang berpasir putih bersih. Saya berusaha untuk menjangkau air laut yang ketika itu masih terasa dingin. Saya coba berjalan di tepi pantai agar kaki saya merasakan seperti ikan yang mampu merasakan dinginnya air laut di pagi hari. Kemudian Saya berdiri sebentar sembari memandang kearah ke laut, seraya sambil berpikir bahwa jika di ibaratkan dengan laut Saya hanya sebuah titik yang tak  terlihat ,seperti jika kita melihat  pasir, kita tidak dapat membedakan satu butir pasir dengan butir pasir lainnya, yang terlihat jelas hanya ketika pasir tersebut mampu memantulkan cahaya sang surya, dan mata manusia difokuskan  pada pasir yang memantulkan cahaya tersebut.

Ombak mulai ber-gulung tapi masih dalam intensitas yang rendah. Ketika saya naik keatas tempat bersandar kapal terlihat pula ikan-ikan kecil yang berenang mencari makan. Rombongan ikan terlihat sangat kompak, ia mampu bergerak ke segala arah dan bentuknya sangat elastis, seolah ada yang menjadi pemimpin dari ikan. Gerakan rombongan ikan seolah sedang menari-nari menghibur hati, di padu dengan orkestra suara deburan air laut yang menjadi suasana jadi lebih hidup.

Setelah sekian lama sama berada di tepi pantai, Saya memutuskan untuk kembali ke penginapan menyusul teman saya yang masih tertidur pulas. Pagi itu teman Saya tidak bisa meluangkan waktu berjalan pagi, karena pada malam harinya pulang larut malam menikmati live musik di kafe, sementara Saya tidak ikut karena rasa kantuk dan akhirnya tidur cepat-cepat.

Pagi hari jarang sekali kita bertemu dengan bule. Jika ada itu hanya sedikit saja. Yang terlihat adalah orang lokal yang kata bule " eksotis". Kulit nya terlihat hitam lebam, ada kacamata diselipkan di bagian kerah depan. Kebanyakan dari mereka mengenakan kaos tanpa lengan, dengan kombinasi celana pendek yang sangat pas terlihat. Apalagi di padu lagi dengan sandal jepit, sungguh komposisi pas sebuah pemandangan di tepi pantai di pagi hari. Ada dari beberapa mereka yang mengenakan topi sambil memasang headset di telinga, mungkin untuk mendengar lagu regae. Karena dari pengalaman Saya biasanya  anak pantai menyukai musik dengan irama yang bikin orang joget tapi dengan irama irama musik yang berubah. Sebagian dari mereka sedang menyapu jalan yang, mengumpulkan kotoran kuda, mengumpulkan pecahan botol bekas pesta semalam yang biasanya dilakukan oleh turis dari luar yang tanpa sengaja menjatuhkan botol bir ke benda keras, membersihkan meja, memasak khususnya yang ada di restoran dan ada pula bapak-bapak yang sedang memompa ban sepeda.

Saya pun tidak tahu dari mana mereka berasal. Dalam hati kecil sambil berpikir "Apakah dari lombok atau pekerja dari Bali yang sudah banyak makan garam di pariwisata". Prasangka saya mungkin mereka hanya orang lokal saja dari pulau seberang, Pulau Lombok. Saya pernah menemui beberapa orang yang bekerja disana berasal dari Bali, walaupun tidak banyak. Akan tetapi jaringan dengan pelaku wisata begitu luas. Oh iya, Saya pernah juga berbicara dengan salah seorang diantara mereka yang katanya kebanyakan turis yang datang ke Gili merupakan turis yang sebelumnya berlibur di Bali. Bali dengan Gili memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Ketika turis mancanegara yang berkunjung ke Bali sudah jenuh dan ingin pengalaman baru, para guide yang berada di Bali biasanya merekomendasikan untuk berkunjung ke Gili. Tentu saja mereka langsung menghubungi jaringan mereka yang berada di Gili, dengan begitu penginapan-penginapan yang berada di Gili mendapat tamu.

Bersamaan ketika saya menuju ke penginapan, saya melewati tempat yang biasa digunakan pedagang menjual makan malam. Tempat ini menjadi fovorit pengunjung. Ketika malam tiba, berbagai ras manusia mulai dari Eropa, Afrika, Arab, Amerika, Hingga Asia Timur tumpah ruah ketika malam . Mereka menyantap makan malam di sini terutama karena harganya sesuai dengan kantong backpacker. Sistem untuk memesan di sini, pengunjung datang melihat-lihat menu dari sekian banyak penjual yang berjejer sepanjang pasar. Banyak dari pengunjung yang hanya bertanya, alias sedang survey harga. Jika pengunjung sudah cocok dengan harga dan masakan, sang penjual mengambilkan makanan sesuai dengan pesanan tamu. Selanjutnya, tamu mencari tempat yang nyaman dan selanjutnya  menyantap makanan.

Perlu di ketahui bahwa tempat wisata di sini menyajikan pengalaman wisata di malam dan di siang hari. Tempat yang biasa menjadi favorit dinikmati ketika siang seperti pantai, laut. Sedangkan favorit untuk malam hari seperti kafe, bar, dan restauran. Berkunjung ke Gili tidak hanya merasakan pengalaman berwisata menikmati pemandangan alam, akan tetapi kita juga dapat belajar dan mempelajari kebiasaan bule ketika mereka sedang berlibur. Misalnya bule sangat suka dengan kegiatan berjemur di pantai. Atau kebiasaan mereka ketika malam hari saat berada di kafe, dimana minuman beralkohol merupakan sajian wajib ketika mereka menikmati malam hari. Saya pernah mendengar bahwa orang asing terutama bule gemar mengkonsumsi minuman beralkohol karena kondisi cuaca tempat asalnya   dingin, seperti sedang hujan salju dan sebagainya. Akan tetapi ketika Saya berkunjung ke Gili, premis tersebut terbantahkan. Bule gemar mengkonsumsi minuman beralkohol karena kebiasaan saja, sama seperti orang yang merokok. Berdasar pengalaman Saya menyakan kepada orang yang merokok itu karena mereka pada umumnya karena ketagihan. Zat-zat yang terkandung didalam rokok termasuk nikotin  dari pembakaran sebatang rokok mampu memberi efek nyaman dan santai. Sehingga ketika orang merasa lelah atau suntuk Ia akan lari ke sebatang rokok.

Wisata Gili Trawangan memberi penghidupan kepada masyarakat Lombok dan Sekitarnya. Warga lokal terbantu ekonomi nya dengan berjualan atau membuat usaha jasa untuk para tamu yang datang. Keuntungan pelaku wisata di sini besar, bisa di bayangkan, jika kita membeli wafer Tango di Pulau Lombok harganya sekitar delapan ribu rupiah, namun jika sudah masuk Gili harganya dapat mencapai 12 ribu. Pedagang mengambil margin keuntungan besar, wajar, pedagang yang menjajakan dagangan di Gili sebagai tempat esklusif daerah wisata.  

Rabu, 04 Maret 2015

Manisnya Jambu di Pagi Hari

Pagi hari ketika akan berangkat ke kantor, saya menyempatkan diri untuk memetik sebuah jambu merah yang berada di depan mes. Jambu inilah yang mengawali cerita hari ini.


Sehabis sarapan pagi  menggunakan menu "seadanya" (sayur, endok, ayam dada, nyam-nyam enaknya), bergegas mengambil dompet yang masih tergeletak diatas kamar tidur, tidak ketinggalan pula handphone yang berada diatas meja ikut saya masukan kedalam saku. Saya pikir harus segera berangkat karena waktu itu arah jarum jam yang berada di ruang makan sudah menunjuk kearah angka enam. Itu artinya adalah waktu untuk mengabsen agar tidak dikatakan telat masih sisa sekitar enam menit. Alat finggerprint telah di setel untuk lebih lambat enam menit dari jam-jam pada umumnya agar memberi kesempatan kepada teman mendapatkan waktu luang dalam mengabsen, karena alat itu tidak memberi kompromi telat satu menit saja kepada para pegawai.

Dengan langkah yang pasti saya menuju kearah pintu mes untuk keluar, langkah kaki pada waktu itu sengaja saya per cepat, dan ternyata efek yang ditimbulkannya, suara langkah kaki saya menjadi keras. Spontan kucing yang saya lewati menyaut ke saya seolah ingin diberi sisa ikan  semalam yang saya sempat makan. Selain kucing, mes juga terdapat anjing. Anjing betah di sini  karena warga mes sering memberi makan kepada anjing liar yang lewat mes, hingga anjing yang lewat merasa nyaman untuk tetap berada di mes. Anjing-anjing ini berada di luar mes, karena tahu bahwa anjing salah satu hewan yang ber najis besar. Pun sama seperti kucing, anjing-anjing ini minta makan akan tetapi saya tidak mengasih makan karena pada waktu itu sungguh sudah benar-benar gawat dalam hal absen pagi sehingga saya haru segera untuk sampai ke kantor sebelum alat finggerprint menolak dengan halus tangan-tangan para pegawai.

Selang beberapa detik kemudian saya melewati pohon yang berada di depan mes, ada berbagai pohon buah besar yang saya lewati, akan tetapi dari sekian banyak pohon hanya satu pohon yang saya perhatikan secara serius. Ya pohon jambu, namun bukan sembarang jambu. Ada makna dari pandangan saya, mengapa hanya pohon jambu itu yang sempat menjadi perhatian untuk saya. Tidak lain dan tidak bukan karena saya melihat warna buah yang sudah masak, ada beberapa buah saja yang berada di pohon jambu tersebut. Itulah yang membuat saya merasa sungguh beruntung, karena saya merasa Tuhan telah memberi rizki di pagi hari dengan memberi satu buah jambu. Jambu itu adalah jambu "darsono". Mungkin bagi kebanyakan orang terutama yang tinggal di sekitar mes jambu ini tidak terlalu istimewa, karena saya merasa hanya saya saja sejak beberapa hari sebelumnya yang mengambil jambu tersebut. Hal ini di perkuat dengan  hasil amatan saya, dimana saya selalu memperhatikan posisi dari masing-masing jambu. Dan setelah diamati dengan teliti posisi tersebut tidak ada perubahan, inilah yang menguatkan posisi argumen saya dan saya rasa sudah terbukti di lapangan. Ada alasan mengapa saya sangat menyukai jambu ini antara lain: 1) buah yang sudah matang rasanya manis dan teksturnya lembut di lidah, 2) buah yang masih setengah matang rasanya campuran yaitu manis dan asam, 3) buah yang masih mentah memiliki rasa yang enak pula untuk di makan (pokoke segalanya bisa dimakan oleh saya........wakwaw). Tidak salah saya langsung mengambil buah jambu yang masih berada di pohon, Saya mengulurkan tangan kira-kira dengan menjinjit jambu itu bisa saya raih dengan sempurna. Hasil petikan terbut saya bawa ke kantor untuk dijadikan cemilan ala kadarnya. Dan sekitar dua menit berselang saya sampai di kantor dan lansung menempelkan jari telunjuk pada alat finggerprint, dan waktu di finggerprint menunjukan angka 07.28, jadi selamatlah saya.


Jambu darsono

Kamis, 12 Februari 2015

Selalu Ada Alasan Untuk Melakukan Perjalanan


Melakukan perjalanan ke daerah yang belum pernah dikunjungi   akan memberi kejutan. Kita tidak tahu bagaimana kebudayaan dan sistem kehidupan sosial yang berada di sana. Selalu ada prasangka sementara yang timbul dari dalam hati yang merupakan sebagai akibat dari keterbatasan pengetahuan seseorang dalam mengunjungi daerah baru. Menurut saya, seseorang yang pertama kali datang ke suatu tempat yang masih baru perlu untuk mempelajari melalui buku, internet, dan yang paling utama adalah bertanya langsung kepada orang lokal. Menanyakan kebiasaan masyarakat setempat kepada ahlinya akan menambah wawasan Kita terhadap daerah yang Kita kunjungi. Tetapi perjalanan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, hanya orang beruntung yang dapat melakukan perjalanan secara gratis.

Indonesia memiliki belasan ribu pulau yang tersebar diseluruh provinsi mulai dari Sabang sampai Merauke dan dari Mianggas sampai Rote. Namun sebagian besar penduduk hanya bermukim di perkotaan di daerah Jawa. Hal ini wajar karena Jawa khususnya di kota-kota besar merupakan pusat dari pembangunan di Indonesia. Disini terdapat fasilitas yang dapat diandalkan untuk memenuhi hidup penghuninya. Sementara itu di luar Jawa penduduknya tersebar pada daerah-daerah yang  satu daerah dengan daerah lain dibatasi oleh jarak yang berjauhan. Orang sudah nyaman tinggal di Jawa biasanya ketika berkunjung keluar pulau akan di khawatirkan oleh kerabat dan saudaranya. Entah itu takut karena nanti akan hilang atau takut kalau orang yang tinggal di luar pulau kesulitan dalam hal komunikasi dan transportasi atau karena kekhawatiran  lainnya. Untuk saat ini pembangunan di luar Pulau Jawa sedikit demi sedikit berangsur membaik. Banyak program pemerintah yang ditujukan khusus untuk membangun baik masyarakatnya maupun membangun fisik untuk menunjang aktivitas manusia. Mungkin dalam beberapa tahun lagi ketika daerah luar pulau Jawa mengalami kemajuan pesat dalam ekonomi akan mendorong masyarakat dari Jawa untuk mencari penghidupan di luar Jawa. Hal ini sudah dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang terus didorong untuk memberi kesempatan luas kepada masyarakat yang tinggal di luar Jawa dengan memberikan beasiswa untuk daerah yang tertinggal, terluar, dan terdepan. 

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan besar untuk melakukan perjalanan ke Pulau Sumbawa  melakukan pengumpulan data primer. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara kepada pihak terkait sesuai dengan tujuan SPT. Dalam perjalanan tersebut Saya mendapat pengalaman yang luar biasa karena mampu bertanya langsung kepada masyarakat di Pulau Sumbawa. Keuntungan yang dapat diraih yaitu Saya lebih paham sedikit demi sedikit tentang masyarakat disana baik sosial, budaya, maupun geografinya. Berdasarkan diskusi dengan berbagai pihak, Saya yakin dalam beberapa waktu kedepan daerah Sumbawa mampu menjadi daerah yang mandiri terutama karena sumberdaya alamnya yang masih besar. Jika dikelola dengan baik, sumberdaya yang ada akan memberi kebaikan kepada pihak yang mengusahakan-nya.

Untuk mengetahui keadaan suatu tempat tidak cukup hanya dengan membaca atau bertanya kepada orang yang sudah pernah datang kesuatu tempat. Adalah dengan melakukan perjalanan sendiri menuju tempat yang dituju, kemudian kita bertanya langsung kepada masyarakat disana tentang kondisi secara umum untuk kemudian dapat dicari informasi secara khusus tentang tempat tersebut. Tidak ada kata telat untuk melakukan perjalanan ke daerah yang masih asing buat kita. 

Perjalanan ini dilakukan di Pulau Sumbawa

Segala rintangan datang menghampiri, tapi hal itu tidak akan menghentikan laju mobil untuk terus menuju daerah yang sudah direncanakan untuk di tuju

Berdiskusi adalah cara yang baik untuk mengorek informasi secara mendalam mengenai kondisi daerah yang masih dianggap asing

Atau kita bisa memilih orang yang berpengaruh didaerah setempat