Rabu, 22 April 2015

Pantai Pink Lombok, Surga di Balik Hutan Jerowaru

Liburan tidak lengkap jika tidak datang ke tempat-tempat menarik disekitar kita. Beberapa waktu yang lalu Saya menghabiskan waktu dengan mengunjungi tempat wisata di Pantai Pink, Jerowaru, Lombok Timur. Jaraknya dengan Mataram ibukota Provinsi sekitar dua jam perjalanan naik motor.

Ketika naik keatas bukit, kita dapat melihat turis yang asik bermain pasir, mandi di sekitar pantai atau warga lokal yang sedang memancing ikan. Pepohonan hijau juga terlihat jelas bagai membentuk garis diagonal dari kiri bawah ke kanan atas. Sementara itu tidak ketinggalan nelayan siap menyewakan perahu ke pengunjung. Rangkaian degradasi warna langit, pantai, bukit, pasir, dan pohon membentuk perpaduan yang sangat sayang untuk tidak diambil gambarnya. Tampaknya liburan kami dibantu alam,  langit cerah memudahkan kami melihat setiap sisi pantai.

Ketika perut sudah tidak bisa diajak kompromi, kami tinggal menuju penjual mie yang berjejer di belakang pepohonan. Pohon yang rindang menjadi tempat yang sejuk untuk menikmati satu gelas mie dan satu cangkir kopi panas. Karena saking capeknya jalan-jalan berkeliling pantai, satu gelas pop mie tidak cukup menutupi perut yang sedang keroncongan. Sembari istirahat, kami menghabiskan waktu yang agak lama di warung. Apalagi, kursi dimana kami duduk, membuat waktu berjalan terasa lambat, kami berada di warung itu sekitar satu jam. Saya kira itu hanya buang waktu jika hanya menikmati pantai di dalam warung

 Konon di Indonesia hanya terdapat dua tempat yaitu di Labuan Bajo, Flores, dan di Lombok. Merupakan suatu kehormatan dapat berkunjung ke tempat yang esklusif yang di Indonesia hanya ada dua. Orang lain belum tentu dapat berkunjung ke tempat ini. Saya tidak henti-henti mengucap syukur Allah SWT telah dipertemukan dengan tempat-tempat indah di negeri ini.



Pantai Pink, Jerowaru, Lombok Timur


Sabtu, 18 April 2015

Pagi di Dermaga

Ketika subuh menjelang diatas dermaga di pelabuhan di Gili Trawangan, Udara begitu dingin menusuk hingga tulang. Jaket tebal yang saya pakai tidak mampu untuk melindungi tubuh  dari serangan dingin nya udara pantai di pagi hari. Akan tetapi di ufuk sebelah timur  terlihat bintang kejora yang masih  terang menampakkan cahaya belum lagi mega-mega yang dipantulkan awan berwarna keemasan seolah Tuhan sedang melukis untuk menghibur para pengunjung pantai agar tidak merasakan dingin nya di tepi pantai. Hanya dengan memandang munculnya  sang surya di pagi detik berganti menit, menit berganti jam sungguh  tidak terasa menunggu pagi hari di atas dermaga. Setelah tidak lama berselang ,  terdengar suara burung-burung yang sedang bernyanyi indah dibalik semak atau pohon-pohon hijau lebat yang masih terjaga dengan baik. Dari sana juga terlihat bunga-bunga dari taman-taman hotel di sekitar yang masih di tempel embun maupun daun hijau dari pohon yang masih terlihat jelas dari sekitar pantai.


Pemandangan pagi hari di tepi dermaga di Gili Trawangan


Kemudian saya menyusuri pantai yang berpasir putih bersih. Saya berusaha untuk menjangkau air laut yang ketika itu masih terasa dingin. Saya coba berjalan di tepi pantai agar kaki saya merasakan seperti ikan yang mampu merasakan dinginnya air laut di pagi hari. Kemudian Saya berdiri sebentar sembari memandang kearah ke laut, seraya sambil berpikir bahwa jika di ibaratkan dengan laut Saya hanya sebuah titik yang tak  terlihat ,seperti jika kita melihat  pasir, kita tidak dapat membedakan satu butir pasir dengan butir pasir lainnya, yang terlihat jelas hanya ketika pasir tersebut mampu memantulkan cahaya sang surya, dan mata manusia difokuskan  pada pasir yang memantulkan cahaya tersebut.

Ombak mulai ber-gulung tapi masih dalam intensitas yang rendah. Ketika saya naik keatas tempat bersandar kapal terlihat pula ikan-ikan kecil yang berenang mencari makan. Rombongan ikan terlihat sangat kompak, ia mampu bergerak ke segala arah dan bentuknya sangat elastis, seolah ada yang menjadi pemimpin dari ikan. Gerakan rombongan ikan seolah sedang menari-nari menghibur hati, di padu dengan orkestra suara deburan air laut yang menjadi suasana jadi lebih hidup.

Setelah sekian lama sama berada di tepi pantai, Saya memutuskan untuk kembali ke penginapan menyusul teman saya yang masih tertidur pulas. Pagi itu teman Saya tidak bisa meluangkan waktu berjalan pagi, karena pada malam harinya pulang larut malam menikmati live musik di kafe, sementara Saya tidak ikut karena rasa kantuk dan akhirnya tidur cepat-cepat.

Pagi hari jarang sekali kita bertemu dengan bule. Jika ada itu hanya sedikit saja. Yang terlihat adalah orang lokal yang kata bule " eksotis". Kulit nya terlihat hitam lebam, ada kacamata diselipkan di bagian kerah depan. Kebanyakan dari mereka mengenakan kaos tanpa lengan, dengan kombinasi celana pendek yang sangat pas terlihat. Apalagi di padu lagi dengan sandal jepit, sungguh komposisi pas sebuah pemandangan di tepi pantai di pagi hari. Ada dari beberapa mereka yang mengenakan topi sambil memasang headset di telinga, mungkin untuk mendengar lagu regae. Karena dari pengalaman Saya biasanya  anak pantai menyukai musik dengan irama yang bikin orang joget tapi dengan irama irama musik yang berubah. Sebagian dari mereka sedang menyapu jalan yang, mengumpulkan kotoran kuda, mengumpulkan pecahan botol bekas pesta semalam yang biasanya dilakukan oleh turis dari luar yang tanpa sengaja menjatuhkan botol bir ke benda keras, membersihkan meja, memasak khususnya yang ada di restoran dan ada pula bapak-bapak yang sedang memompa ban sepeda.

Saya pun tidak tahu dari mana mereka berasal. Dalam hati kecil sambil berpikir "Apakah dari lombok atau pekerja dari Bali yang sudah banyak makan garam di pariwisata". Prasangka saya mungkin mereka hanya orang lokal saja dari pulau seberang, Pulau Lombok. Saya pernah menemui beberapa orang yang bekerja disana berasal dari Bali, walaupun tidak banyak. Akan tetapi jaringan dengan pelaku wisata begitu luas. Oh iya, Saya pernah juga berbicara dengan salah seorang diantara mereka yang katanya kebanyakan turis yang datang ke Gili merupakan turis yang sebelumnya berlibur di Bali. Bali dengan Gili memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Ketika turis mancanegara yang berkunjung ke Bali sudah jenuh dan ingin pengalaman baru, para guide yang berada di Bali biasanya merekomendasikan untuk berkunjung ke Gili. Tentu saja mereka langsung menghubungi jaringan mereka yang berada di Gili, dengan begitu penginapan-penginapan yang berada di Gili mendapat tamu.

Bersamaan ketika saya menuju ke penginapan, saya melewati tempat yang biasa digunakan pedagang menjual makan malam. Tempat ini menjadi fovorit pengunjung. Ketika malam tiba, berbagai ras manusia mulai dari Eropa, Afrika, Arab, Amerika, Hingga Asia Timur tumpah ruah ketika malam . Mereka menyantap makan malam di sini terutama karena harganya sesuai dengan kantong backpacker. Sistem untuk memesan di sini, pengunjung datang melihat-lihat menu dari sekian banyak penjual yang berjejer sepanjang pasar. Banyak dari pengunjung yang hanya bertanya, alias sedang survey harga. Jika pengunjung sudah cocok dengan harga dan masakan, sang penjual mengambilkan makanan sesuai dengan pesanan tamu. Selanjutnya, tamu mencari tempat yang nyaman dan selanjutnya  menyantap makanan.

Perlu di ketahui bahwa tempat wisata di sini menyajikan pengalaman wisata di malam dan di siang hari. Tempat yang biasa menjadi favorit dinikmati ketika siang seperti pantai, laut. Sedangkan favorit untuk malam hari seperti kafe, bar, dan restauran. Berkunjung ke Gili tidak hanya merasakan pengalaman berwisata menikmati pemandangan alam, akan tetapi kita juga dapat belajar dan mempelajari kebiasaan bule ketika mereka sedang berlibur. Misalnya bule sangat suka dengan kegiatan berjemur di pantai. Atau kebiasaan mereka ketika malam hari saat berada di kafe, dimana minuman beralkohol merupakan sajian wajib ketika mereka menikmati malam hari. Saya pernah mendengar bahwa orang asing terutama bule gemar mengkonsumsi minuman beralkohol karena kondisi cuaca tempat asalnya   dingin, seperti sedang hujan salju dan sebagainya. Akan tetapi ketika Saya berkunjung ke Gili, premis tersebut terbantahkan. Bule gemar mengkonsumsi minuman beralkohol karena kebiasaan saja, sama seperti orang yang merokok. Berdasar pengalaman Saya menyakan kepada orang yang merokok itu karena mereka pada umumnya karena ketagihan. Zat-zat yang terkandung didalam rokok termasuk nikotin  dari pembakaran sebatang rokok mampu memberi efek nyaman dan santai. Sehingga ketika orang merasa lelah atau suntuk Ia akan lari ke sebatang rokok.

Wisata Gili Trawangan memberi penghidupan kepada masyarakat Lombok dan Sekitarnya. Warga lokal terbantu ekonomi nya dengan berjualan atau membuat usaha jasa untuk para tamu yang datang. Keuntungan pelaku wisata di sini besar, bisa di bayangkan, jika kita membeli wafer Tango di Pulau Lombok harganya sekitar delapan ribu rupiah, namun jika sudah masuk Gili harganya dapat mencapai 12 ribu. Pedagang mengambil margin keuntungan besar, wajar, pedagang yang menjajakan dagangan di Gili sebagai tempat esklusif daerah wisata.  

Rabu, 04 Maret 2015

Manisnya Jambu di Pagi Hari

Pagi hari ketika akan berangkat ke kantor, saya menyempatkan diri untuk memetik sebuah jambu merah yang berada di depan mes. Jambu inilah yang mengawali cerita hari ini.


Sehabis sarapan pagi  menggunakan menu "seadanya" (sayur, endok, ayam dada, nyam-nyam enaknya), bergegas mengambil dompet yang masih tergeletak diatas kamar tidur, tidak ketinggalan pula handphone yang berada diatas meja ikut saya masukan kedalam saku. Saya pikir harus segera berangkat karena waktu itu arah jarum jam yang berada di ruang makan sudah menunjuk kearah angka enam. Itu artinya adalah waktu untuk mengabsen agar tidak dikatakan telat masih sisa sekitar enam menit. Alat finggerprint telah di setel untuk lebih lambat enam menit dari jam-jam pada umumnya agar memberi kesempatan kepada teman mendapatkan waktu luang dalam mengabsen, karena alat itu tidak memberi kompromi telat satu menit saja kepada para pegawai.

Dengan langkah yang pasti saya menuju kearah pintu mes untuk keluar, langkah kaki pada waktu itu sengaja saya per cepat, dan ternyata efek yang ditimbulkannya, suara langkah kaki saya menjadi keras. Spontan kucing yang saya lewati menyaut ke saya seolah ingin diberi sisa ikan  semalam yang saya sempat makan. Selain kucing, mes juga terdapat anjing. Anjing betah di sini  karena warga mes sering memberi makan kepada anjing liar yang lewat mes, hingga anjing yang lewat merasa nyaman untuk tetap berada di mes. Anjing-anjing ini berada di luar mes, karena tahu bahwa anjing salah satu hewan yang ber najis besar. Pun sama seperti kucing, anjing-anjing ini minta makan akan tetapi saya tidak mengasih makan karena pada waktu itu sungguh sudah benar-benar gawat dalam hal absen pagi sehingga saya haru segera untuk sampai ke kantor sebelum alat finggerprint menolak dengan halus tangan-tangan para pegawai.

Selang beberapa detik kemudian saya melewati pohon yang berada di depan mes, ada berbagai pohon buah besar yang saya lewati, akan tetapi dari sekian banyak pohon hanya satu pohon yang saya perhatikan secara serius. Ya pohon jambu, namun bukan sembarang jambu. Ada makna dari pandangan saya, mengapa hanya pohon jambu itu yang sempat menjadi perhatian untuk saya. Tidak lain dan tidak bukan karena saya melihat warna buah yang sudah masak, ada beberapa buah saja yang berada di pohon jambu tersebut. Itulah yang membuat saya merasa sungguh beruntung, karena saya merasa Tuhan telah memberi rizki di pagi hari dengan memberi satu buah jambu. Jambu itu adalah jambu "darsono". Mungkin bagi kebanyakan orang terutama yang tinggal di sekitar mes jambu ini tidak terlalu istimewa, karena saya merasa hanya saya saja sejak beberapa hari sebelumnya yang mengambil jambu tersebut. Hal ini di perkuat dengan  hasil amatan saya, dimana saya selalu memperhatikan posisi dari masing-masing jambu. Dan setelah diamati dengan teliti posisi tersebut tidak ada perubahan, inilah yang menguatkan posisi argumen saya dan saya rasa sudah terbukti di lapangan. Ada alasan mengapa saya sangat menyukai jambu ini antara lain: 1) buah yang sudah matang rasanya manis dan teksturnya lembut di lidah, 2) buah yang masih setengah matang rasanya campuran yaitu manis dan asam, 3) buah yang masih mentah memiliki rasa yang enak pula untuk di makan (pokoke segalanya bisa dimakan oleh saya........wakwaw). Tidak salah saya langsung mengambil buah jambu yang masih berada di pohon, Saya mengulurkan tangan kira-kira dengan menjinjit jambu itu bisa saya raih dengan sempurna. Hasil petikan terbut saya bawa ke kantor untuk dijadikan cemilan ala kadarnya. Dan sekitar dua menit berselang saya sampai di kantor dan lansung menempelkan jari telunjuk pada alat finggerprint, dan waktu di finggerprint menunjukan angka 07.28, jadi selamatlah saya.


Jambu darsono

Kamis, 12 Februari 2015

Selalu Ada Alasan Untuk Melakukan Perjalanan


Melakukan perjalanan ke daerah yang belum pernah dikunjungi   akan memberi kejutan. Kita tidak tahu bagaimana kebudayaan dan sistem kehidupan sosial yang berada di sana. Selalu ada prasangka sementara yang timbul dari dalam hati yang merupakan sebagai akibat dari keterbatasan pengetahuan seseorang dalam mengunjungi daerah baru. Menurut saya, seseorang yang pertama kali datang ke suatu tempat yang masih baru perlu untuk mempelajari melalui buku, internet, dan yang paling utama adalah bertanya langsung kepada orang lokal. Menanyakan kebiasaan masyarakat setempat kepada ahlinya akan menambah wawasan Kita terhadap daerah yang Kita kunjungi. Tetapi perjalanan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, hanya orang beruntung yang dapat melakukan perjalanan secara gratis.

Indonesia memiliki belasan ribu pulau yang tersebar diseluruh provinsi mulai dari Sabang sampai Merauke dan dari Mianggas sampai Rote. Namun sebagian besar penduduk hanya bermukim di perkotaan di daerah Jawa. Hal ini wajar karena Jawa khususnya di kota-kota besar merupakan pusat dari pembangunan di Indonesia. Disini terdapat fasilitas yang dapat diandalkan untuk memenuhi hidup penghuninya. Sementara itu di luar Jawa penduduknya tersebar pada daerah-daerah yang  satu daerah dengan daerah lain dibatasi oleh jarak yang berjauhan. Orang sudah nyaman tinggal di Jawa biasanya ketika berkunjung keluar pulau akan di khawatirkan oleh kerabat dan saudaranya. Entah itu takut karena nanti akan hilang atau takut kalau orang yang tinggal di luar pulau kesulitan dalam hal komunikasi dan transportasi atau karena kekhawatiran  lainnya. Untuk saat ini pembangunan di luar Pulau Jawa sedikit demi sedikit berangsur membaik. Banyak program pemerintah yang ditujukan khusus untuk membangun baik masyarakatnya maupun membangun fisik untuk menunjang aktivitas manusia. Mungkin dalam beberapa tahun lagi ketika daerah luar pulau Jawa mengalami kemajuan pesat dalam ekonomi akan mendorong masyarakat dari Jawa untuk mencari penghidupan di luar Jawa. Hal ini sudah dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang terus didorong untuk memberi kesempatan luas kepada masyarakat yang tinggal di luar Jawa dengan memberikan beasiswa untuk daerah yang tertinggal, terluar, dan terdepan. 

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan besar untuk melakukan perjalanan ke Pulau Sumbawa  melakukan pengumpulan data primer. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara kepada pihak terkait sesuai dengan tujuan SPT. Dalam perjalanan tersebut Saya mendapat pengalaman yang luar biasa karena mampu bertanya langsung kepada masyarakat di Pulau Sumbawa. Keuntungan yang dapat diraih yaitu Saya lebih paham sedikit demi sedikit tentang masyarakat disana baik sosial, budaya, maupun geografinya. Berdasarkan diskusi dengan berbagai pihak, Saya yakin dalam beberapa waktu kedepan daerah Sumbawa mampu menjadi daerah yang mandiri terutama karena sumberdaya alamnya yang masih besar. Jika dikelola dengan baik, sumberdaya yang ada akan memberi kebaikan kepada pihak yang mengusahakan-nya.

Untuk mengetahui keadaan suatu tempat tidak cukup hanya dengan membaca atau bertanya kepada orang yang sudah pernah datang kesuatu tempat. Adalah dengan melakukan perjalanan sendiri menuju tempat yang dituju, kemudian kita bertanya langsung kepada masyarakat disana tentang kondisi secara umum untuk kemudian dapat dicari informasi secara khusus tentang tempat tersebut. Tidak ada kata telat untuk melakukan perjalanan ke daerah yang masih asing buat kita. 

Perjalanan ini dilakukan di Pulau Sumbawa

Segala rintangan datang menghampiri, tapi hal itu tidak akan menghentikan laju mobil untuk terus menuju daerah yang sudah direncanakan untuk di tuju

Berdiskusi adalah cara yang baik untuk mengorek informasi secara mendalam mengenai kondisi daerah yang masih dianggap asing

Atau kita bisa memilih orang yang berpengaruh didaerah setempat

Senin, 09 Februari 2015

Makna Pembakaran Ogoh-ogoh

Kegiatan tradisional memiliki makna bagi yang melaksanakannya, karena pelaku biasanya mengharapkan sesuatu dari kegiatan yang diadakan tersebut . Belum lama ini ada kegiatan tradisional  pawai ogoh-ogoh. Kegiatan ini telah ada sejak lama yang dilakukan oleh komunitas Hindu. Kegiatan rutin diadakan satu hari menjelang hari raya Nyepi. Kegiatan banyak diisi oleh kaum muda yang masih semangat membawa ogoh-ogoh dimana terik panas matahari tidak terasa. Keceriaan untuk menyambut datangnya Nyepi di ekspresikan dengan berjoget, menyanyi dan bercanda antara satu peserta dengan peserta lain.

Ogoh-ogoh adalah miniatur segala bentuk kejahatan, keburukan, kemunafikan, keingkaran, dan kebejatan yang diminliki oleh manusia. Segala sifat buruk harus dihancurkan dari muka bumi agar kehidupan berjalan dengan teratur. Ogoh-ogoh diarak mengelilingi jalan untuk diperlihatkan kepada sekalian yang melihat untuk memberi pelajaran agar jangan sampai mengikuti sifat dari ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh disimbolkan dengan bentuk dari mahluk hidup yang seram yang ditakuti dan setiap bagian memiliki makna tersendiri. Misalnya manusia yang bermuka tikus, itu memilki makna bahwa manusia tersebut tamak, dan suka memakan apa saja walaupun itu bukan haknya. Kejahatan dapat menjadi teman dari sebagian besar manusia jika manusia mau menerima dengan baik sifat simbol dari ogoh-ogoh sebagai sumber-dari segala sumber kehidupannya. Ketika seseorang menerima keangkaramurka menjadi teman maka ia telah menjadi ogoh-ogoh yaitu simbol dari segala kemungkaran setiap manusia. 

Ogoh-ogoh diarak menuju tempat pembakaran yang berada di lapangan umum dekat dengan pura. Pembakaran merupakan simbol dari pembersihan segala bentuk keburukan yang melekat dalam tubuh manusia agar hilang dan mampu untuk menumbuhkan rasa optimis manusia untuk berbuat yang lebih baik. Dengan begitu manusia mampu melewati hari secara teratur, dan dapat terjaga keharminisan antar manusia.




Anak-anak berjalan dengan bersemangat menuju tempat pembakaran ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh disimbolkan dengan  bentuk manusia yang memiliki rupa yang jelek dan menakutkan

Seluruh kalangan dari Umat Hindu terlarut untuk ikut menuju tempa pembakaran ogoh-ogoh

Jalanan sesak dipenuhi peserta dan penonton
Acara juga di isi dengan kegiatan pertunjukan musik tradisional

Selasa, 27 Januari 2015

Cerita di Pantai yang Surut

Photo ini diambil ketika mengunjungi Gili Trawangan sekitar Bulan Januari 2015. Ketika itu Saya jalan-jalan mengelilingi pulau di bagian barat pulau dekat dengan Hotel Sunset View, dan disana terdapat ayunan yang berada di pantai. Ketika akan mendekat terdapat keraguan apakah diijinkan sama penjaga hotel untuk masuk, pasalnya daerah itu sudah dikapling sama hotel menjadi daerah privat. Akhirnya ketika melihat teman saya yang sudah masuk lebih duluan keraguan itu hilang dan saya langsung memarkirkan sepeda dan kemudian masuk mendekat pantai. Ketika itu air laut sedang surut sekitar 200 meter dari bibir pantai. Penasaran dengan keadaan surutnya air laut, aku beranikan diri untuk menyusur ke tengah laut, disana ketika itu menjadi padang karang dan pasir dengan sedikit air laut yang masih tersisa. Saya berjalan menapaki karang masuk kedalam sejauh dengan menempuh waktu sekitar 10 menit. Saya amati secara hati-hati keadaan disekitar. Was-was akan air yang datang tiba-tiba semakin deras membayangi pikiranku karena saya bukanlah ahli renang yang mampu mengendalikan tubuh saya menuju tempat yang saya ingini. Bersamaan dengan rasa was-was itu, saya juga menikmati kehidupan pantai yang sedang ditinggal surut oleh air laut. Saya perhatikan betul-betul bahwa ternyata jenis mahluk hidup yang dominan tinggal di tempat surutnya air laut yaitu bintang laut. Jumlahnya banyak, hampir setiap langkah mata saya melihat bintang laut ini. Jika tidak hati-hati, kaki saya bisa saja menginjak hewan tanpa tulang belakang ini. Selain itu ada burung yang sedang mencari makan. Mungkin jenis burung pantai yang sedang mencari cacing atau jika beruntung bisa dapat ikan kecil disana. Jumlahnya tidak banyak, sejauh mata memandang, hanya beberapa saja yang masuk penglihatan. Saya , sudah berusaha untuk mengabadikan momen burung yang sedang mencari makan, akan tetapi karena keterbatasan lensa kamera yang saya miliki, saya hanya berhasil memotret dalam jangkauan yang lebar yaitu burung hanya terlihat kecil dan kurang jelas. Seharusnya untuk memotret burung tersebut, jika kita berada jauh dari objek maka paling enak adalah menggunakan lensa tele.

 Baru  setelah itu saya untuk memutuskan kembali ke darat untuk melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Selain itu, saya sudah berjanji untuk dijemput jam 12 di Pelabuhan Bangsal, jadi sekalian saya akan kemas-kemas di penginapan dan mencari makan.

Sambil menikmati ayunan di tepi pantai di gili trawangan




Selasa, 20 Januari 2015

Hutan Kita Dibabat

Pernah Saya mengunjungi daerah yang bernama Desa Rempek  di Lombok dan masuk jauh kedalam kawasan hutan merasa kaget ketika melihat keadaan hutan tidak lagi dalam kondisi sehat. Penebangan marak dilakukan oleh oknum warga untuk meraih keuntungan sesaat. Tanpa ragu kemudian Saya bertanya kepada masyarakat disekitar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sini. Berdasar keterangan dari beberapa orang mengatakan bahwa penebangan dilakukan oleh orang tertentu yang ingin mencari untung sendiri dengan mengabaikan kepentingan yang lebih besar yaitu masyarakat sekitar hutan. Warga yang sadar akan pentingnya hutan ternyata takut dengan oknum warga yang biasa melakukan penebangan liar. Mereka mendapat ancaman fisik yang tidak main-main jika mengganggu oknum ketika melakukan penebangan.

Keadaan buruk yang sudah pernah dialami oleh warga ketika penebangan liar marak yaitu  perusahaan Ongkowijoyo yang merupakan pemegang konsesi untuk hutan di wilayah Rinjani Barat beroperasi dengan melakukan penebangan untuk ditanam tanaman industri. Ketika itu pula warga merasa kekurangan air, dimana yang biasanya air melimpah dan mampu memberi kebutuhan sehari-hari, tiba-tiba saja mengering. Akibatnya banyak sektor yang terkena dampak negatif seperti pertanian, perikanan, perkebunan dan tentunya adalah sektor domestik rumah tangga.

Sebetulnya berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi agar semua kembali seperti sedia kala. Namun apa boleh di kata nasi sudah jadi bubur, barangkali generasi yang menjadi saksi hidup ketika ada penebangan sudah tidak dapat lagi menikmati keadaan seperti sedia kala, akan tetapi Kita harus optimis bahwa generasi dimasa yang akan datang tidak terkena dampak buruk dari pengelolaan hutan yang tidak lestari. Untuk saat ini kementerian Kehutanan tengah berupaya keras agar Kawasan Hutan di Rinjani Barat terutama di sekitaran Desa Rempek dapat lestari memberi kesejahteraan kepada masyarakat sekitar. Program yang dilakukan yaitu memberi pemberdayaan kepada masyarakat sekitar hutan agar berdaya dan dapat memanfaatkan kekayaan yang terdapat disana secara maksimal.

Penebangan liar yang dilakukan oknum warga

Batas antara hutan yang masih virgin dengan kawasan hutan yang sudah dibabat

Tanaman kakao didalam kawasan memberi efek secara ekonomi kepada masyarakat akan tetapi daya dukung lingkungan menjadi berkuran karena tanaman kakao bukanlah jenis tanaman yang kuat menahan erosi di daerah pegunungan