Sabtu, 16 Oktober 2010

Desa Tanjungsari Kecamatan Kutowinangun, Kebumen

MI Tanjungsari

Biarlah hujan batu dinegeri sendiri dari pada hujan emas dinegeri orang, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan betapa nyamannya desa Tanjungsari untuk ditempati. Walaupun tidak modern dan tidak pula ndeso-ndeso banget tetapi desa sendiri bagaikan surga yang bisa mencukupi kebutuhan warganya termasuk Saya.
Di jaman yang semakin tua  ini, warga desa pun sudah berubah mengikuti jaman bergerak untuk mengikuti arus modernisasi

Terus terang saja warga sudah banyak yang terkena virus  globalisasi
perubahan di semua sektor kehidupan mengarah pada gaya hidup yang modern.
 Hal ini bisa dilihat dari cara mereka memanfaatkan alat-alat teknologi komunikasi dan informasi.
Jembatan Sidatan, disebelah utara desa
 Kegiatan yang bersifat tradisional lambat laun mulai hilang dari desa ini. Ini bisa dilihat dari acara yang dahulu tahapannya lengkap sekarang sedikit demi sedikit mulai terkikis. Misalnya, kalau dulu saat bulan ramadhan pada saat hari pertama maupun pada saat hari ke 20 (likuran) dimasjid diadakan kegiatan membawa ambeng, tetapi untuk sekarang ini kegitan tersebut mulai hilang.

Anak muda yang  menganut paham rock n roll sibuk dengan dandanan mereka yang terlihat nyentrik. Celana yang dipakai mereka terlihat lebih kecil dari tahun awal 2000 an. Celana anak-anak muda jaman sekarang dibuat dengan gaya mengecil dibagian ujungnya. Dan kaki jadi terlihat seperti ringking alias kurus. Model pakaian yang seperti itu kebanyakan di buat pada celana jeans yang di indikasikan sebagai celana untuk bergaul dan sebagian kecil saja yang diterapkan pada pakaian sekolah. Dan tidak ada yang tahu, model apalagi yang akan menghiasi penampilan anak muda dimasa-masa mentang.

Sementara itu juga nilai-nilai baru masuk kedalam masyarakat desa. Sebagian besar muslim dan berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama. Namun sekarang ini, banyak dari kaum muda yang berpendidikan mulai mempelajari paham-paham kemuhammadiyah-an. Hal ini tentunya akan berbeda dengan golongan tua yang umumnya sudah mantap dengan NU.
Warga desa Kami menyukai kesenian. Kesenian yang ditampilkan tidak jauh dari nuansa reliji. Misalnya, kesenian rebana tumbuh subur di desa Kami. Musik rebana berisi puji-pujian kepada Allah SWT maupun kepada Rasulullah Muhammad SAW . Musik rebana disajikan dengan baik oleh grup-grup musik yang banyak terdapat di desa dengan sangat menarik. Pertunjukan diadakan jika ada kegiatan di kampung seperti, nikahan, sunatan, isro miraj, maulud, atau kegiatan lain yang mengumpulkan banyak orang. Tetapi berdasarkan pengamatan, rebana banyak disewa oleh orang yang memiliki hajat nikahan atau sunatan.
Grup Rebana Desa Tanjungsari, Kutowinangun, Kebumen

Individualisme  sudah mulai masuk kedalam desa ini. Ini bisa dilihat jika ada orang yang meninggal dunia dahulu orang ramai-ramai untuk melayat walaupun beda RW, tetapi sekarang ini orang lebih sibuk dengan kegiatannya sendiri-sendiri, apalagi jika anak yang masih SMP disuruh untuk menyebutkan beberapa nama orang tua, bisa dipastikan mereka tidak akan fasih untuk menyebut nama seseorang tersebut dengan benar. Gap antar generasi muda dengan generasi sebelumnya tidak terbantah lagi. semua berjalan sendiri-sendiri. Anak muda sibuk dengan kegiatannya sendiri, sementara golongan tua egois tidak memikirkan dengan anak-anak muda desa ini.

Namun Saya masih sangat bersyukur karena ternyata diluar Pulau Jawa masih banyak desa yang tergolong terpencil, tetapi sifat individual warganya melebihi  desa ku ini. Jika dibandingkan dengan desa-desa yang berada diluar Pulau Jawa, terutama yang ada di  Pulau Sunda Kecil seperti Pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Timor dan pulau pulau kecil lainnya, menurut Saya, desa ini masih menjadi yang terbaik, baik nilai fisik maupun non fisiknya. Non fisik misalnya budaya, kehidupan sosialnya, dsb, dan sampai hari ini belum bisa tergantikan lagi. Syukurlah Saya dilahirkan disebuah desa dengan budaya Jawa yang manusianya masih saling menghargai. Berbeda dengan orang-orang luar pulau yang masih memiliki paham suku dan golongan masih kental.

Jembatan Sidatan


Differensiasi  juga  dialami oleh desa ini, salah satunya adalah mengenai  jenis pekerjaan. Pertanian bukan menjadi mata pencaharian pokok dari warga desa ini. Lahan pertanian tidak lagi  mendukung warganya dalam mencari memenuhi kebutuhan hidup. 
Sawah-sawah banyak digarap oleh orang tua, anak-anak muda enggan  untuk pergi ke sawah. Jika ada orang muda yang mengerjakan sawah biasanya terpaksa karena tidak ada pekerjaan yang lain. Generasi muda kini banyak yang merantau keluar daerah. Daerah favorit untuk mencari nafkah warga berada di luar daerah terutama di kota-kota besar seperti JABODETBEK, dan kota-kota besar di Jawa, maupun luar pulau dan bahkan banyak yang menjadi TKI di luar negeri.
Tanaman utama dari warga adalah padi. Padi bisa menghidupi sebagian besar warga disini. Dan kelebihan konsumsi padi oleh warga  dijual keluar daerah seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang dan beberapa kota di Sumatera. Sawah disini merupakan sawah yang khusus untuk menanam padi, jika ada tanaman lain yang ditanam itu hanya sedikit, hanya orang-orang tertentu saja yang memanfaatkan sawahnya untuk tanaman lain (palawija). Mungkin pada saat musim kering atau waktu peralihan antara musim panen dengan musim tanam ada baiknya bisa digunakan untuk menanam tanaman palawija, dengan begitu ekonomi masyarakat desa juga akan semakin meningkat. dan lahan yang ada tidak menganganggur. Musim tunggu panen dengan musim  tanam ada jeda sampai dua bulan sampai tiga bulan.Karena orang tidak mau ambil repot akhirnya banyak sawah dalam musim peralihan tersebut yang terlantar.

Namun akhir-akhir ini, tanaman pertanian yang dahulu didominasi oleh tanaman padi, kini warga sudah mulai menanam tanaman kedelai atau tanaman palawija lainnya. Akhir tahun 2010 hujan deras datang lebih cepat dari waktu normal   warga Desa
Tanaman Kedelai
Tanjungsari telah  menanam kedelai, tetapi mereka bisa memanen kedelai, walaupun sempat terkena banjir.
Sementara untuk tanaman jagung hanya ditanam oleh orang tertentu didaerah sawahan yang tidak produktif. Sehingga produksi jagung daerah ini sedikit sekali. Untuk tanaman singkong (bahasa lokalnya : budin) juga banyak dikembangkan didaerah ini. Kebanyakan dikembangkan didaerah perbukitan atau berada di bagian timur laut desa. Produksi sikngkong disini termasuk banyak, sehingga banyak dijual ke luar daerah.
Tanaman yang tidak kalah banyaknya sebagai sumber penghasilan adalah tanaman kelapa. Hampir setiap rumah tangga memiliki pohon kelapa. Kelapa banyak ditanam didaerah sekitar rumah atau kebun-kebun warga. Sebagian besar hasilnya untuk di jual kepada pedagang pengepul. Kemudian pedagang pengepul memasarkan ke pedagang besar di Kecamatan dan baru dari sini kelapa dikirim ke berbagai daerah di Jawa Tengah, seperti Semarang atau Surakarta.

Banyak profesi yang digeluti oleh warga desa Tanjungsari diataranya petani, tukang, PNS, swasta, pedagang, TNI POLRIdll. Sebagian besar warga berprofesi sebagai petani buruh, yaitu petani yang memiliki sawah sedikit dan bekerja untuk sawah orang lain. Hasil dari bertani tidak seberapa tetapi mampu untuk menghidupi kebutuhan rumah tangga. Hidup cukup tidak kekurangan dan tidak kelebihan atau disebut dengan suvicient telah menjadi gaya hidup masyarakat petani di Desa Tanjungsari. Selama musim menanam para petani ini masih bisa untuk pergi ke sawah mencari nafkah namun setelah masa panen berakhir mereka  para petani tidak bisa untuk berbuat sesuatu yang lebih dalam mencari nafkah. Pada saat lengang tidak ada kegiatan pertanian para petani menghabiskan waktunya di rumah untuk memperbaiki rumah yang rusak atau bersih-bersih rumah dan sesekali untuk kaum laki-laki mereka mengerjakan pekerjaan sambilan seperti menjadi tukang serabutan atau menjadi pedagang seadanya di pasar kecamatan untuk kaum perempuan.
Untuk jenis usaha yang diusahakan oleh penduduk sini yaitu antara lain bengkel sepeda/motor tukang jahit, pembuat makanan ringan, tukang kayu, cucian motor, sewa berbagi keperluan acara nikahan, penggilingan padi, reparasi alat-alat elektronika, pedagang warung,

Desa sekarang  berbeda dengan yang dulu, tidak ada yang abadi didunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Apapun bentuk perubahannya tetapi desa merupakan identitas yang perlu dijaga oleh penghuninya.
Jembatan
Siapa saja pasti akan bangga untuk menjadi bagian dari suatu desa, karena sekarang ini desa merupakan tempat untuk mencari ketenangan setelah kota-kota berubah menjadi tempat yang membuat tensi darah naik.
Menurut Iwan Fals dalam syair lagu yang berjudul desa, Iwan Fals menggambarkan desa merupakan pusat ekonomi sesungguhnya. Matinya desa akan membuat warganya menjadi miskin. Kota tidak akan berkembang tanpa ada dukungan dari desa. Karena sebagian besar orang kota berasal dari desa.













Lihat Peta Lebih Besar

Masjid raudlatul Jannahm Desa Tanjungsari, Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Kebumen Jawa Tengah
Masjid raudlatul Jannahm Desa Tanjungsari, Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Kebumen Jawa Tengah
Tabuh bedug yang di lakukan oleh anak-anak di desa Tanjungsari Kutowinangun Kebumen Jawa Tengah setiap ada hari raya umat Islam seperti Idul Adha atau Idul Fitri

Anak-anak merayakan Idul Fitri dengan menabuh bedug


I Love My VIllage


Balai Desa Tanjungsari dari Sebelah Barat
http://yumantoko.blogspot.com/2011/10/revolusi-teknologi-di-sebuah-desa-di.html

15 komentar:

  1. Wow desa lan sekolahku ijih tetep koyo mbien yo...Moga bisa maju suatu saat nanti!!Bravo

    BalasHapus
  2. sampeyan umahe nang sebelah ndi kang

    BalasHapus
  3. Moso ra ngerti,nek kan kidul sblum MI ngetan,plng ujung gon tikungan pokoke..

    BalasHapus
  4. o iye ngerti aku,sampeyan jarang mulih mbok ya

    BalasHapus
  5. Yo kadang bali,nek lebaran.Koe anke pak baker mbok?

    BalasHapus
  6. ebtul-betul-betul. lor penggokan-----> Kae lah.

    pade pangling suwe ora keton

    BalasHapus
  7. Sepertinya pada Desember 2015 lalu, ada sunatan massal di Desa Tanjungsari yaaa..ada orang yang bekerja di Yogya dan sukses lalu adakan acara sunatan masaal, betulkah demikian bung Yumantoko ? Siapakah orang itu...?

    BalasHapus
  8. sedulur sedulur , pie kabare podo shat

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah, sudah 2 kali sampai di Desa Tanjungsari, Kutowinangun. Bertemu saudara.

    BalasHapus
  10. Sa jane aku yo kepengin muleh tapi repot mugo mugo do sehat kabeh yo salam kanggo koncoku khaeruman

    BalasHapus
  11. Sakjane krpngin muleh tapi ke ada an ra ngijini salam karo muhtariplan khaeruman ki nomerku 082377795036 mksh

    BalasHapus

No Porn, Racism, Sadism

Makan Bersama di Lombok Namanya Begibung

     Halo, teman-teman! Kali ini saya mau berbagi pengalaman saya yang pernah mendapat undangan makan dari teman dalam rangka maulid nabi. A...

Populer, Sist/Broo